PERJUANGAN SEORANG IBU

Ibu, apa-apaan sih, kok langsung tutup telpon begitu. bilang kek, selamat malam,begitu,'' Kata Haruka saat mendengar caraku yang tidak sopan dalam bertelpon. Apa yang selama ini di dapatnya dari orang tua, sekarang kalau orang tuanya salah,kata-kata yang pernah kuucapkan akan dikembalikan. Aku pun menyesali caraku bertelpon tadi. Perasaan antara kessal karena di tegur oleh anak sendiri sekaligus geli dalam hati. Anaku memang sudah dewasa  sudah mampu menilai perilaku seseorang walaupun itu ibunya sendiri artinya dia sudah mampu menanggapi dunia sekitarnya.

Dari pendampingku sejak dia lahir hingga sekarang ini, kadang aku merasa anaku akan menjadi orang yang melebihi orangtuanya . Jika saat itu terjadi, aku sungguh-sungguh akan bangga sebagai ibunya. Sungguh aneh. memang hubungan orang tua dan anak.

         Anaku menatap Haruka dengan perasaan yang bercampur aduk.
Apa sih bu.? tanya Haruka meskipun tidak bisa melihat raut mukaku. Aku yakin dia merasakan tatapan mataku.AH nggak. Ibu tadi mikir, sekarang kamu sudah besar, dan sudah menjadi remaja, sudah bisa mengkritik ibu, kamu juga suka memberikan masukan yang baik ke ibu. Ibu senang sekali,'' ,,oohh cuma itu ? Kupikir ibu mau marah karena bicaraku tadi tidak sopan. tapi boleh kan,Bu ? Harukapun pergi kemejanya dan mulai mengutak atik komputer... Aku terus memandangi wajahnya yang mulai beranjak remaja. Rasanya baru berapa hari yang lalu aku melahirkannya dan setiap hari menangis tanpa henti disebelah ingkubatornya......
                Ketika dia lahir beratnya hanya 500 gram dan sebagai bayi super prematur dia harus dimasukan ke ingkubator karena terlalu banyak oksigen yang di hirup di dalam inkubator, akhirnya di terkena Retinopathy atau buta , sehingga dia kehilangan penglihatanya .. ya , anaku buta seumur hidupnya, tapi inilah takdir yang tuhan berikan untuknya dan aku tidak menyesal melahirkanya ,, Aku yakin rencana Tuhan untuk anaku pasty indah.
   Keluarga kami terdiri dari seorang ibu dan seorang anak perempuan yang sekarang sudah remaja, selama 16 tahun setiap hari aku hanya berusaha untuk menghidupi kami berdua, Hidupku hanya memikirkan bagaimana bisa mendampinginya setiap hari hingga dia mampu mandiri. Hati dan pikiranku senantiasa hanya tertuju pada hidup annaku , tetapi sewaktu ''sadar , saat ini aku berhadapan dengan seorang gadis berumur16 tahun yang bisa membuat orang tuanya terpengaruh. Haruka sudah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang sehat dan mampu berdiri sejajar dengan orangtuanya,

Maafkan ya Nak,,, Maafkan apa Ibu, yang melahirkan kamu begini kecil, sambil menahan air mata yang tidak bisa berhenti mengalir, hanya itu yang bisa kuucapkan dalam hati saat pertama kali melihat bayi kecilku yang hanya seberat 500 gram tertidur lemah di dalam ingkubator, bayi kecilku yang saat lahir hanya berbekal orga tubuh seadanya . kepalanya sebesar telur, tubuhnya hanya sepanjang pena seperti yang di taruh di luar ingkubator, Pinggul sebesar ibu jari orang dewasa dan jari-jarinya sebesar tusuk gigi. tubuhnya berwarna coklat, tidak seperrti warna bayi pada umumnya. aku menangis melihat tubunya yang begitu kecil. 
Dia tergelok tak berdaya, tetap dia terus berjuang untuk hidup. anaku solah mengerti keinginan ibunya, yang terus berharap menginginkanya ia hidup,  dalam membesearkan Haruka aku selalu merasa menyesal karena melahirkan dirinya begitu kecil, dan perasaan itu kuubah menjadi sebuah tekad keras bahwa aku harus bisa membuat Haruka bahagia sambil membayangkan bagaimana dia dewasa nanti,,,       Aku ingin anak ini mengetahui dunia sesuai dengan usianya walaupun buta, apa yang seharusnya diketahui tentang kehidupan pada saat anak itu berusia nol tahun atau pada usia tiga tahun,seperti layaknya anak yang normal . Aku ingin dia mencintai dunia dan kehidupanya , aku ingin dia mendapatkan pengalaman sebanyak-banyaknya sehingga bisa mengerti arti kehidupan dan memperluas kesempatanya untuk mendapatkan kesenangan dalam kehidupanya kelak. Aku tidak menolongnya bangun waktu dia terjatuh. Aku sangat tegas dalam mengajari hal dasaryang dikerjakan sehari-hari dan juga dalam pekerjaan rumah tangga. Karena sikapku itulah maka aku di anggap sebagai ibu yang jahat oleh orang lain termasuk oleh anak sendiri, Dan aku akui sedemikian kuatnya untuk membuat Haruka sejajr dengan orang normal, dan ada kalanya aku menjadi seorang ibu yang jahat, HARUKA Maafkan Ibu   



Dalam cerita ini mudah-mudahan kalian sebagai seorang Ibu nantinya memberikan motivasi dan inspirasi yang lebih baik lagi,,,

By IMAM ARIFIN

Komentar

Postingan Populer